Sekelumit tentang Sosok Abu Nawas yang Perlu Dikenal (Bagian 1)



Abu Nawas umumnya sering dikenal sebagai sosok lucu dengan lawakan-lawakannya. Padahal ia sebenarnya merupakan penyair dan sufi yang sangat cerdas.

Contoh bait syair yang dikenal luas sebagai buah karangan Abu Nawas yang belakangan marak terdengar di radio dan televisi, dan dibawakan oleh penyanyi-penyanyi terkenal adalah berikut:

"Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wala aqwa ala naril jahimi
Fahab li taubatan waghfir zunubi
Fainnaka ghafiruz zambil adzimi

Terj:
Tuhanku, tidaklah pantas hamba menjadi penghuni surga,
Namun hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka,
Maka beri hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Agung.
Sudah lama kaum muslim di Indonesia akrab dengan syair Abu Nawas tersebut. Beberapa saat menjelang shalat Maghrib atau Subuh, jamaah di masjid-masjid atau mushalla biasanya menyanyikan syair tersebut dengan syahdu. Bagi bangsa Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor.

Sesungguhnya ia sendiri adalah seorang sufi, intelektual sekaligus seorang penyair yang hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).

Abu Nawas tidak hanya cerdik, tetapi juga nyentrik. Sebagai penyair, mula-mula ia suka minum khamr dan mabuk. Belakangan diketahui dalam perjalanan spritualnya mencari hakikat Allah, kehidupan rohaninya memang cukup berliku sangat mengharukan. Setelah “menemukan” Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamr, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.

Nama aslinya ialah: Abu Ali Al-Hasan ibnu Hani bin Abdil Awwal al-Jalami. Ia lahir di Ahwaz, Persia, Iran, pada 145 H (747 M). Ayahnya, Marwan bin Muhammad, merupakan anggota legiun militer khalifah terakhir Bani Umayyah di Damaskus, Harun Al-Rasyid. Sementara Ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.

Sejak kecil ia sudah yatim. Sang Ibu kemudian membawanya ke Basrah, Irak. Di kota inilah ia belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Penyair Muda

Ia mulai dikenal sebagai penyair muda berbakat bersamaan dengan dimulainya pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah, yang berlanjut pada masa pemerintahan Al-Amin dan Al-Makmun.

Ada beberapa riwayat yang menceritakan, sebelum pertobatannya, Abu Nawas adalah seorang pemabuk berat. Syair-syairnya masa itu lebih banyak bercerita tentang minuman, wanita dan cinta. Tapi meski seorang pemabuk, kepiawaiannya dalam mencipta syair ketika itu nyaris tak tertandingi. Terbukti, walaupun dalam keadaan mabuk ia tetap mampu menelurkan mutiara-mutiara kata yang indah.

Masa mudanya penuh dengan gaya hidup yang kontroversial, sehingga membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khasanah sastra Arab Islam. Walau begitu sajak-sajaknya sarat dengan nilai keagamaan dan pertobatan, di samping cita rasa kemanusiaan.

Abu Nawas belajar sastra dan bahasa Arab kepada Abu Zaid al-Anshori dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar al-Qur’an kepada Ya’qub al-Hadrami, sementara dalam ilmu hadits ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.

Memperhalus Bahasa




Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, membawanya ke panggung kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

Di Kufah, tempat Sayyidina Ali dimakamkan, bakat Abu Nawas pun digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama-sama orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab. Kemudian ia ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasiyah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kepiawaiannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para pangeran. Tetapi gara-gara kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya berubah, cenderung memuja penguasa.

Dalam kitab al-Wasith fil al-Adabil al-Arabi wa al-Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multi visi, penuh canda, berlidah tajam, penghayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Hanya sayang, karya-karyanya jarang ditampilkan dalam berbagai kesempatan atau diskusi keagamaan. Ia hanya dipandang sebagai seorang yang bertingkah lucu dan tidak lazim.

Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Ar-Rasyid. Melalui musikus Istana, Ishaq al-Wawasuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi Penyair Istana (Sya’irul Bilad). Dalam ensiklopedi Al-Munjid disebutkan, Abu Nawas diangkat sebagai pendekar para penyair yang bertugas menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.

Sebagai penyair, tingkah laku Abu Nawas bisa disebut aneh, bahkan selebor. Tingkah lakunya membuat orang selalu mengaitkan karyanya dengan gejolak jiwanya. Ditambah dengan sikapnya yang jenaka, perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya menenggak arak menjadikannya penyair yang unik. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khasanah peradaban dunia.

Di lain pihak, Abu Nawas adalah sosok yang jujur, sikap itu menjadikannya sejajar dengan tokoh-tokoh penting dalam khasanah keilmuan islam. Zamannya adalah zaman keemasan Emperium Abbasiyah, pada masa ke khalifahan Harun Ar-Rasyid, peradaban Islam maju pesat. Banyak tokoh penting lahir pada zaman ini. Cuma sayang, keilmuan ini tidak dibarengi dengan perilaku yang baik dalam masyarakat. Kenyataan inilah yang menjerumuskan Abu Nawas yang kemudian larut dalam minuman keras dan hidup sebagai hedonis.

Kedekatannya dengan kekuasaan bahkan pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika, Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak.

Ia pun meninggalkan Baghdad setelah keluarga kerajaan jatuh pada tahun 803 M. setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun Ar-Rasyid meninggal dan digantikan oleh al-Amin.

Nilai-nilai Ketuhanan


Sejak mendekam di penjara, puisi-puisi Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kendi tuaknya, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang tobat bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi banyak diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan, sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan.

Meski bersama dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tidak selamanya hidup dalam gemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan. Tetapi justru membawa keberkahan tersendiri. Adalah Dr. Muhammad al-Nuwaihi yang mengungkapkan kehidupan gelap penyair ini. Dalam kitabnya Nafsyyat Abu Nawas disebutkan, Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras. Meski begitu ia tetap mempunyai harapan dalam setiap kali jiwanya guncang.

Ia yakin bahwa ampunan Allah bisa direngkuhnya, seperti sebuah sajaknya:

Tuhan …
Jika dosaku
Semakin membesar
Sungguh aku tahu
Ampunan-Mu
Jauh lebih besar.
Jika hanya
orang-orang baik
yang berseru kepada-Mu
lantas kepada siapa
seorang pendosa harus mengadu?

Bisa dimaklumi jika pada masa tuanya Abu Nawas cendrung hidup zuhud. Di masa inilah ia menciptakan puisi-puisi yang terdiri atas beberapa tema, ada yang bertema pujian (Madah), satire (hija’), suhud (zuhudiyah), bahaya umum khamer (khumriyah), canda (mujuniyah).

Gara-gara puisinya yang bertema jenis Mujuniyah atau Khumriyat, Abu Nawas dituduh sebagai penyair zindiq atau pendosa besar. Tetapi berkat puisi bertema khumriyat pula ia dikenal sebagai penyair pemabuk. Ia menggambarkan minuman keras yang dapat menenangkan pikiran.

Tetapi, menjelang akhir hayatnya ia mulai berubah. Ia mulai menulis beberapa puisi religius. Dalam beberapa puisi bertema Zuhdiyat, ia mengungkapkan rasa sesal dan tobat atas segala perbuatannya selama ini.

Tidak hanya itu, di masa tuanya ia benar-benar menjalani kehidupan zuhud. Seorang sahabatnya Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian. Akhir hidup Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Terlepas dari autentik atau tidak kisah-kisahnya, Abu Nawas tetap merupakan sumber inspirasi kearifan. Kita bisa belajar darinya, bagaimana ia menyikapi setiap permasalahan hidup dengan jenaka, bahkan konon, makamnya pun menyiratkan kejenakaannya, memiliki pintu namun tidak berdinding.

Dipelajari dan Dikenang
Mengenai tahun meninggalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M. Ada pula yang menyebut tahun 195 H/810 M, atau 196 H/811 M dan tahun 199 H/814 M. sementara yang lain tahun 198 H/813 M. Konon, Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti yang menaruh dendam kepadanya.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nawas yang telah di cetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di:

Wina, Austria (1885)

Greinfswald (1861)

Litrografi di Cairo, Mesir (1277 H/1860 M)

Beirut Lebanon (1301 H/1884 M)

Bombay, India (1312 H/1894 M)

Beberapa manuskrip puisinya masih tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodiana, dan Mosul. Pada 1855, Diwannya diedit oleh A. Von Kremer dengan judul Diwans des Abu Nowas des Grosten Lurischen Dichters der Araber. Di tangan para orientalis itu karya Abu Nawas dipelajari dan dikenang.

Mereka memang lebih dulu mengenal Abu Nawas ketimbang umumnya kita yang hanya bisa mentertawakannya.

Pada suatu saat Abu Nawas datang ke sebuah bukit melihat hilal untuk menentukan awal Bulan syawal. Ia melihat Sulaiman bin Abi Sahi, seorang ulama yang sama sekali tak memperdulikan kehadirannya.

Abu Nawas lantas nyeletuk, bagaimana Anda bisa melihat bulan, sementara saya yang didekat Anda saja tidak melihat. Sulaiman pun marah besar. “Aku melihat kamu berjalan mundur sampai masuk kembali ke dalam rahim Jalban (Abu Nawas).” Seketika itu juga Abu Nawas melontarkan syair-syairnya, dan Sulaiman juga membalasnya.

Hingga matinya pun, Abu Nawas masih dibicarakan orang. Konon, sebelum mati, keluarganya mengkafani dengan kain bekas. Ketika malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, konon Abu Nawas menolaknya. “Tuhan, kedua melaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.” Kedua malaikat itu pun pergi meninggalkannya. Tentu saja ini hanyalah lelucon yang menggambarkan sosok Abu Nawas yang memang jenaka.

Kematian Abu Nawas memang penuh dengan misteri.
Ia dimakamkan di Syunizi di jantung kota Baghdad. Seperti dikutip Syekh Farid Wadji dalam bukunya, Dairatul Ma’arif lil Qarnil Isyrin, ada sebuah kisah yang diceritakan oleh Al-Ashmui. Suatu malam ia bermimpi melihat Abu Nawas yang sudah almarhum. Ashmu’i bertanya tentang syair-syair Khumriyat-nya yang sangat memuja minuman keras itu, Abu Nawas menjawab, “Aku masih menyisakan satu syair yang paling indah,” Lantas Abu Nawas membacakan syair itu yang dihafal oleh Ashmu’i. Penyair Abdullah bin Mu’taz, juga meriwayatkan banyak syair gubahan Abu Nawas yang ia hafal melalui mimpi setelah Abu Nawas sudah lama meninggal.

Wallahua’alam bissawab.


#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik