Fakta Merger Bank Syariah BUMN: BRI Syariah Jadi Induk, Jamin Tak Ada PHK


Penggabungan atau merger tiga bank syariah milik bank BUMN resmi dimulai dengan penandatanganan Perjanjian Penggabungan Bersyarat atau Conditional Merger Agreement (CMA) yang dilakukan Senin (12/10). Ketiga BUMN tersebut adalah PT BRI Syariah Tbk (BRIS), PT BNI Syariah (BNIS), dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

Tunjuk BRI Syariah Jadi Induk
Dalam proses merger ini, BRIS ditunjuk menjadi pemegang entitas yang menerima penggabungan ini atau surviving entity. Sedangkan BNIS dan BSM akan dilebur ke BRIS dan menjadi pemegang saham entitas yang menerima penggabungan ini.

Ketua Tim Project Management Office yang juga Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunardi, mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah membereskan urusan perizinan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nantinya di minggu ketiga Oktober, mereka baru akan melakukan tahap penyampaian rencana merger.


Mereka juga sudah melaporkan seluruh dokumen perusahaan dan poin-poin perjanjian di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia. Sehingga, Hery memproyeksikan, bank syariah hasil merger itu baru akan terbentuk di Februari 2021, setelah semua proses tersebut selesai.
"Setelah itu ada RUPSLB, mungkin di kuartal I 2021 setelah ada legal merger (baru resmi digabung)," ujarnya.

Saham BRIS Melesat 20 Persen
Investor di Bursa Saham Indonesia merespons positif rencana merger perbankan syariah milik bank-bank BUMN. Pada Selasa (13/10) pagi, saham BRIS dibuka langsung naik tinggi. Pada pukul 9.41 WIB, saham BRI Syariah sudah naik 185 poin (20,56 persen) ke Rp 1.085.

Saat awal perdagangan, saham BRIS dibuka pada posisi Rp 920. Total volume perdagangan mencapai 510,43 juta lembar, dengan nilai transaksi Rp 539,75 miliar.
Menurut Analis Bina Artha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, melonjaknya harga saham BRI sangat dipengaruhi berita merger bank syariah BUMN yang bakal diumumkan sore nanti. "Itu karena merespons positif MOU merger Bank Syariah BUMN," kata Nafan kepada kumparan.

Jamin Tak Ada PHK Karyawan
Kementerian BUMN yang diwakili oleh Ketua Tim PMO, Hery Gunardi, memastikan tidak ada pengurangan karyawan atau PHK atas penggabungan tiga bank syariah anak usaha BUMN. Semua karyawan yang terdapat di tiga bank tersebut akan diboyong semua.

"Tiga bank HIMBARA dan bank syariah ini komitmen tidak ada pengurangan karyawan, semua diangkut. Jadi satu keluarga besar untuk bangun bank syariah yang kuat dari sisi modal dan aset," katanya.


Hery menuturkan semua karyawan dari tiga bank ini turut andil dalam membangun kekuatan ekonomi dan pasar keuangan syariah di dalam negeri dan dunia. Sebab, potensi pasar syariah Indonesia sangat besar karena 87 persen masyarakatnya merupakan muslim.

Ditargetkan Masuk Jajaran 10 Besar Bank Global
Hery mengatakan, peleburan ketiga bank syariah itu dilandasi keinginan agar Indonesia selaku negara dengan penduduk mayoritas muslim, bisa memiliki bank syariah yang mampu berdaya saing secara global. Langkah merger tersebut akan mampu membuat bank syariah masuk ke dalam 10 besar bank dunia.
Ia memperkirakan nilai aset mencapai Rp 250 triliun di 2021 setelah resmi dilebur. Lebih jauh, merger ini ditargetkan bisa menambah aset bank menjadi Rp 390 triliun, target pembiayaan Rp 272 triliun, dan pendanaan Rp 335 triliun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang konservatif.
"Hasil merger ini tentu memiliki potensi menjadi 10 bank syariah teratas secara global berdasarkan kapitalisasi pasar. Dan kalau selesai merger kuartal I 2021, akan memiliki aset sekitar Rp 220 triliun sampai Rp 225 triliun. Tentunya ini nanti akan menempati posisi nomor 7 atau 8 di Indonesia," ujarnya.

#GresikBaik
#InfoGresik
#Gusfik