Belajar Bisnis dari Pesantren, Ekspor Kopi ke Australia hingga UEA

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik



JAGA KUALITAS: Produksi kopi dilakukan sendiri oleh para santri Mukmin Mandiri. Selain mengaji, para santri memang dilatih berwirausaha. (MUKMIN MANDIRI FOR JAWA POS). 
Editor : Ilham Safutra.  Reporter : irr/c19/oni
29 Oktober 2020, 11:40:11 WIB

PONDOK pesantren terus bermetamorfosis. Tidak lagi sekadar menjadi tempat mengaji dan belajar kitab. Beberapa pesantren kini berkembang menjadi pusat pelatihan bisnis. Para santri dididik menjadi entrepreneur. Harapannya, setelah lulus dari pondok, mereka bisa membuka lapangan kerja untuk membangkitkan ekonomi umat. (*)

EMPAT bulan lalu, selepas lulus madrasah aliyah di salah satu pondok pesantren di Purwosari, Pasuruan, Ali Ridho galau. Pikirannya menerawang. Dia memikirkan apa yang harus dilakukan setelah lulus.

Beban paling berat di benaknya saat itu adalah bagaimana caranya agar segera mendapat kerja. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, dia memang tidak berani bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Ridho sebenarnya punya impian bekerja sebagai barista. Namun, dia tak mau pilih-pilih pekerjaan. Lowongan kerja apa pun dia lamar. Termasuk melamar sebagai karyawan di salah satu jaringan waralaba minimarket. ’’Yang penting, saat itu saya pengin segera dapat kerja,’’ ucap santri di Pondok Pesantren Agrobisnis dan Agroindustri Mukmin Mandiri, Sidoarjo, itu saat ditemui Senin lalu (19/10).

JAGA KUALITAS: Produksi kopi dilakukan sendiri oleh para santri Mukmin Mandiri. Selain mengaji, para santri memang dilatih berwirausaha. (MUKMIN MANDIRI FOR JAWA POS).


Suatu hari, saat berbincang dengan sang ibu, Ridho diberi masukan lain. Ibunda Ridho menyarankan agar dia nyantri lagi. Tapi di Pesantren Mukmin Mandiri pimpinan KH Muhammad Zakki. Menurut ibu Ridho, mondok di pesantren yang terletak di Perumahan Graha Tirta, Waru, Sidoarjo, tersebut nyambung dengan keinginan Ridho bekerja dan menjadi barista. ’’Ibuk tahu karena memang sudah lama ikut jamaah ngajinya Kiai Zakki,’’ jelasnya.

Di Pesantren Mukmin Mandiri, para santri memang tidak hanya mendalami ilmu agama. Kiai Zakki juga turun langsung mengajari mereka menjadi entrepreneur andal. Terutama di bidang industri kopi, dari hulu sampai hilir. Karena itu, Kiai Zakki memberikan tambahan nama belakang pesantren yang dia dirikan pada 2006 tersebut dengan agrobisnis dan agroindustri. ’’Di sini, belajar berwirausaha jalan, tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama, Red) juga jalan,’’ jelasnya.

Kiai Zakki menambahkan, sejak dulu lembaga pendidikan pesantren itu punya karakter kemandirian. Karena itu, dia ingin Mukmin Mandiri turut andil mencetak lebih banyak santri yang mampu hidup mandiri secara ekonomi. ’’Membentuk jiwa wirausaha itu tidak bisa hanya dari seminar. Harus praktik langsung,’’ tambahnya.

Kiai Zakki terus menekankan kepada santri-santrinya bahwa di Mukmin Mandiri mereka bukan belajar menjadi karyawan. Tapi belajar berwirausaha. Saat dianggap sudah mampu membuka usaha sendiri, santri akan diminta pulang ke daerahnya untuk membangun usaha. ’’Setelah tiga tahun, mereka harus pulang dan membangun usaha sendiri. Kalau belum ada modal, kita support dari sini,’’ tutur pria yang juga ketua Dewan Kopi Jawa Timur.

TERBUKA: Ustad Agus Triyono, pengurus Pesantren Mukmin Mandiri, menjelaskan proses produksi kopi kepada pengunjung di pabrik kopi mereka di Sidoarjo. (MUKMIN MANDIRI FOR JAWA POS)

Produk kopi Pesantren Mukmin Mandiri tak bisa dipandang sebelah mata. Sampai saat ini, pesantren yang sedang membangun cabang di Lawang, Kabupaten Malang, itu sudah menelurkan banyak produk dengan beragam merek. Di antaranya, Kyaiku, Songo, Greng Lanang, dan Kopi Doa Mahkota Raja.

Mukmin Mandiri bahkan mengekspor kopi ke beberapa negara sejak 2014. Negara-negara tujuan ekspor itu, antara lain, Australia, Italia, Tiongkok, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Bentuknya berupa biji kopi maupun bubuk. Total keseluruhan omzet usaha pesantren tersebut sudah menembus miliaran rupiah. Sekitar Rp 3,5 miliar per tahun. Kebutuhan bahan baku biji kopi untuk produksi mereka mencapai 74 ton per bulan.

JAGA KUALITAS: Produksi kopi dilakukan sendiri oleh para santri Mukmin Mandiri. Selain mengaji, para santri memang dilatih berwirausaha. (MUKMIN MANDIRI FOR JAWA POS)

’’Sering orang menganggap Mukmin Mandiri itu perusahaan. Tidak. Mukmin Mandiri tetap pesantren. Mungkin lebih tepatnya balai latihan kerja berbasis pesantren. Di sini adalah kawah candradimukanya santripreneur. Tempat pembentukan karakter wirausaha santri. Nilai-nilai kepesantrenan akan selalu terjaga di sini,’’ ucap Kiai Zakki.



jawapos.com