400 Juta Ludes 7 Menit Setelah Ganti nomer HP

#GresikBaik
#infogresik
#Gusfik



’Semestinya yang pertama saya lakukan menutup nomor rekening dulu. Bukan nomor telepon,’’ Dr Eric.

Puluhan nomor telepon berbeda yang tak dikenal menghubungi HP Eric setiap hari. Penelepon misterius itu meminta kode aktivasi yang dikirim melalui SMS. Merasa tak nyaman, Eric mengganti nomor HP. Tujuh menit kemudian, tabungannya ludes.

Seorang pria yang mengaku customer service bank swasta menelepon Eric Priyo Prasetyo pada Mei 2016. Pria tak dikenal itu mengatakan bahwa Eric terdaftar pada layanan bank yang menyajikan harga-harga komoditas, valas, dan saham. Biayanya akan didebet otomatis dari rekening.

Pria 39 tahun tersebut lantas mengonfirmasi ke bank di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya, tentang informasi itu. Namun, pihak bank menyatakan tidak ada layanan seperti yang disebutkan dan meminta Eric untuk mengabaikannya. Dia pun tak menanggapi informasi dari penelepon misterius itu.

Tak lama berselang, kode aktivasi masuk ke pesan di HP Eric. Kode tersebut masuk berkali-kali selama beberapa hari. Padahal, dokter gigi itu tidak sedang melakukan transaksi atau aktivasi layanan apa pun.

Penelepon itu menghubunginya lagi. Dia minta Eric membacakan kode, tapi ditolak. Sejak itu, nomor teleponnya terus berdering. Dihubungi pria tak dikenal. Penelepon memaksa Eric untuk mengaktivasi layanan dari bank. ’’Dia bilang, kalau tidak mau daftar layanan, tolong dikasih kode aktivasi untuk menonaktifkan layanan. Saya tidak mau sebutkan kode apa pun,’’ ungkap Eric.

Penelepon gelap itu menelepon tiap hari selama beberapa minggu untuk minta kode. Bukan itu saja. Banyak nomor telepon tak dikenal yang menelepon Eric silih berganti. ’’Saya reject tidak bisa. Telepon masuk terus. Saya angkat, mati, ganti telepon lain. Saya matikan HP, ketika dihidupkan masih terus masuk. Saya blokir tidak bisa,’’ tuturnya.

Pesan singkat yang berisi ancaman juga diterimanya. Isinya, orang tak dikenal itu mengaku mengetahui keberadaan Eric dengan melacak nomor telepon selulernya. Eric pun merasa tak nyaman. Dia lantas mendatangi Grapari Telkomsel yang ada di Jalan Kayoon, Surabaya, untuk menutup nomor HP-nya.

’’Tujuh menit kemudian, ternyata nomor saya sudah aktif lagi. Dari informasi di kantor itu, nomor saya dikloning di Grapari Kelapa Gading, Jakarta. Padahal, nomor sudah saya tutup,’’ paparnya.

Beberapa hari kemudian, Eric kaget melihat saldonya tersisa sedikit. Padahal, sebelumnya ada Rp 400 juta. Setelah dicek di mutasi rekening, uangnya sudah mengalir ke lima rekening berbeda sebanyak delapan kali dengan total Rp 399,5 juta.

Pemilik lima rekening itu sama sekali tidak dikenalnya. Eric juga tak pernah mentransfer tabungannya ke rekening-rekening tersebut. Setelah dicek lebih detail, proses transfernya tidak lama setelah dia mengajukan penutupan nomor selulernya ke Telkomsel. Sekitar tujuh menit setelahnya.

Eric merasa masuk perangkap sindikat itu setelah pergi ke Grapari Telkomsel untuk menutup nomor selulernya. Upayanya menutup kartu itulah yang sebenarnya diinginkan sindikat tersebut. ’’Semestinya yang pertama saya lakukan menutup nomor rekening dulu. Bukan nomor telepon,’’ ujarnya.

Selain melapor ke Siber Polda Jatim, Eric juga menggugat bank dan operator seluler ke Pengadilan Negeri Surabaya. Pengacara Eric, M. Yusron Marzuki, menyatakan bahwa penyalahgunaan kartu Telkomsel kliennya yang sudah ditutup itu merupakan perbuatan melawan hukum. Bank juga sudah melanggar prinsip kehati-hatian dalam perbankan. Pihak bank seharusnya melindungi nasabahnya.

Dia pun meminta kedua tergugat bertanggung jawab dengan mengganti kerugian kliennya. ’’Hilangnya uang klien kami yang ada di bank merupakan kecerobohan pihak bank sehingga menjadi tanggung jawab hukum,’’ ucap Yusron.

Saat dimintai konfirmasi, pihak bank menyatakan akan berkoordinasi dengan jajaran manajemen sebelum memberi konfirmasi.

Telkomsel: Ganti Nomor HP Melalui Verifikasi Berlapis
Telkomsel buka suara terkait kasus uang tabungan yang hilang milik Eric Prasetyo setelah mengganti nomor HP. Pihak Telkomsel mengklaim telah menerapkan sistem keamanan yang ketat dalam pengajuan deaktivasi atau reaktivasi layanan atau pergantian SIM card. Misalnya, karena upgrade, hilang, atau rusak.

”Telkomsel telah menerapkan SOP (standard operating procedure) yang tegas untuk memastikan verifikasi berlapis dan validasi kepemilikan layanan. Seperti konfirmasi kelengkapan data pelanggan sesuai yang terdaftar di sistem Telkomsel,” ujar Manager Corporate Communications Telkomsel Jawa Bali Erwien Kusumawan, Minggu (11/10).

Menurut dia, SOP yang tegas diterapkan untuk memastikan keamanan nomor pelanggan sesuai aturan yang berlaku di industri telekomunikasi. Meski demikian, untuk data pelanggan yang terhubung dengan akun perbankan, perlindungannya berada di pihak bank. Bukan tanggung jawab Telkomsel.

”Untuk hal yang terkait dengan layanan pihak ketiga seperti perbankan, aktivitas layanan seperti sistem keamanan, prosedur aktivasi, dan deaktivasi layanan perbankan menjadi tanggung jawab dan kewenangan penyedia layanan perbankan yang didaftarkan,” tuturnya.

Telkomsel mengimbau agar pelanggannya menjaga data perbankan yang terhubung di nomor telepon selulernya. Pelanggan harus berkoordinasi dengan perbankan selaku penyedia layanan setiap kali bertransaksi layanan perbankan sesuai prosedur yang berlaku.

Sebagaimana diberitakan, tabungan Eric ludes sesaat setelah mengajukan permohonan penutupan nomor HP yang tersambung dengan akun bank di Grapari Kayoon, Surabaya. Uang Rp 395 juta di rekeningnya mengalir ke lima rekening tanpa sepengetahuannya.

Proses perpindahan uang itu terjadi sekitar tujuh menit setelah Eric menutup nomor HP di kantor Grapari. Eric sebelumnya menutup nomor HP karena diteror penelepon gelap yang mengaku sebagai customer service bank.