MISI DAN STRATEGI PASANGAN MOCHAMMAD QOSIM DAN Dr.ASLUCHUL ALIF

Mohammad Qosim- dr Asluchul Alif (QA), pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor 1 Pilkada Gresik, menyiapkan delapan strategi atau misi agar Gresik menjadi lebih unggul dan maju. Mulai dari betonisasi jalan kabupaten  512,56 km, mobil ambulan bagi 356 desa dan kelurahan, juga tambahan dana desa Rp 1 miliar per desa dan kelurahan.

Tak hanya itu, masih ada BPJS Kesehatan bagi warga yang belum tersentuh, insentif bagi para guru, lima sentra PKL dan UMKM di Bawean, Cerme, Driyorejo, Sedayu dan Gresik, hingga membuka 5 ribu lapangan kerja per tahun. Semua untuk mewujudkan visi menjadikan Kabupaten Gresik semakin religius, sehat, berkelanjutan dan sejahtera untuk semua.

“Jadi cara berpikirnya tidak boleh lagi sekedar bagaimana membangun Kabupaten Gresik, tapi berpikir lebih jauh bagaimana kita harus lebih maju dan lebih unggul dibandingkan kabupaten dan kota lain,” kata Mohammad Qosim, calon bupati yang juga Ketua PKB Gresik, saat ditemui di kediamannya, Senin (28/9/2020).

Menurut Qosim, delapan misi Qosim-Alif (QA) mengambil falsafah delapan penjuru mata angin yang maksudnya pemerintahan Kabupaten Gresik di bawah kepemimpinan QA harus menjangkau dan melayani seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Bagaimana strategi membuka 5 ribu lapangan kerja per tahun bagi masyarakat Gresik? Untuk apa tambahan Dana Desa Rp 1 miliar tiap desa? Apa tujuan diciptakan Kartu Petani Bangkit, Kartu Nelayan Bangkit, Kartu PKL dan UMKM Bangkit? Mengapa dibangun lima sentra PKL dan UMKM di lima wilayah?

Berikut wawancara dengan Mohammad Qosim yang didampingi penasihat Relawan Sejati QA, relawan militan nonparpol yang beranggotakan seribu lebih orang yang siap mensosialisasikan visi dan misi QA:
Apa misi pertama paslon QA?

Misi kami pertama penguatan Gresik sebagai Kota Santri dan Kota Wali. Itu harga mati. Sebab lazimnya kalau industri dan perdagangan sudah masuk, maka pondasi religi secara perlahan bisa terkikis. Jika industri dan perdagangan maju, maka orang mulai abaikan sholat, mulai tidak rajin khotmil Al Quran, atau tidak mau lagi sholawatan.

Nah, kami tidak mau hal itu terjadi. Makanya penguatan Gresik sebagai Kota Santri dan Kota Wali justru semakin kita perkokoh. Untuk menjaga masyarakat yang kerja di sektor industri, kita akan masukkan dan dorong nuansa keagaaman ke perusahaan.

Misalnya kami buat aturan minimal harus ada mushola di pabrik, kemudian musholanya punya takmir sehingga bisa ada sholat berjamaah atau pengajian rutin. Kemudian di momen tertentu ada santunan anak yatim piatu dan dhuafa. Jadi nuansa religinya justru kita dorong dan perkokoh.

Apa misi kedua?

Kedua sehat. Kami akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Gresik. Caranya membuat semua masyarakat tanpak terkecuali harus memiliki keanggotaan BPJS Kesehatan. Bagi mereka yang sudah mampu karena diberi anugerah lebih oleh Allah SWT, tentu kami alhamdulillah.

Kami bakal fokus kepada masyarakat yang kurang beruntung, di mana masih ada sekitar 30% warga Gresik dari sekitar 1.350.000 jiwa yang belum tercover BPJS Kesehatan. Intinya jangan sampai ada anggota masyarakat yang sakit dan tidak bisa berobat hanya karena kondisi ekonomi.

Tentu bakal membutuhkan anggaran besar untuk itu?

Kita bakal berdayakan semua sumber daya yang dimiliki Gresik. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh maka pasti dapat. Sumber daya alam ini sudah ditakar oleh Allah SWT untuk mencukupi seluruh kebutuhan manusia jika dikelola dengan baik. Jadi tidak ada yang tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia kecuali yang salah kelola.

Kenapa kesehatan penting setelah sisi religi?

Pada kehidupan yang semakin modern ini, kesehatan sudah menjadi kebutuhan mutlak. Kita bahkan berharap, nantinya masyarakat bisa secara periodik cek kesehatan. Jangan seperti dulu, kalau badan gak remek gak budal nang rumah sakit. Begitu periksa di RS ternyata sudah komplikasi karena mereka menunggu sampai kondisi tidak bisa apa-apa lagi. Kami tidak mau seperti itu.

Kami juga bakal galakkan Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, yakni olah raga rutin, rajin makan sayur dan buah, serta kontrol kesehatan minimal 6 bulan sekali.

Kami juga bakal siapkan 356 mobil ambulan yang bakal standby di tiap desa atau kelurahan, di luar ambulan yang sudah dimiliki puskesmas-puskesmas. Ambulan puskesmas  biarlah dipakai untuk kepentingan puskesms, sementara warga desa yang tiba-tiba sakit keras di malam hari, mereka tinggal lapor perangkat desa dan bisa memanfaatkan ambulan desa.

Khusus warga Pulau Bawean, kami akan siapkan helikopter atau pesawat kecil misalnya Cesna yang tidak butuh runaway panjang untuk melayani warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Gresik atau Surabaya yang lebih lengkap fasilitasnya.