KORUPSI, RESESI DAN SOLUSINYA




Akar dari budaya korupsi adalah karena mindset poor (kemiskinan, lack of sense) yang akut.
Maka idiom kefakiran dekat dengan kekufuran itu adalah sebuah aksioma. Terbukti dengan sendirinya. Yang miskin jiwa dan mindset nya akan selalu merasa kekurangan.

Rasa kebersyukuran minim sehingga 'kelaparan' akan selalu mendera tiada jeda.
Namun jika mindset awal keberlimpahan (abundance) sudah mulai merata pada jiwa, pelan namun pasti fokus pada keberlimpahan akan mengejewantah dengan disiplin ketat dan kebiasaan yang terus menerus diaplikasikan.

Al ghina huwal qanaah. Kaya ada dalam qanaah. (baca : nriman, basa jawa nya). Merubah budaya korupsi yang sudah berakar puluhan abad di nusantara bukanlah pekerjaan mudah, ini adalah perjuangan. Sama dengan perjuangan memenangkan nafsu atas diri.
Dimulai dari diri sendiri, lalu kepada keluarga sebagai elemen terkecil bangsa.
Namun memulainya bukan hanya dengan serta merta. Harus ada sebuah solusi awal. Solusi nyata yang bisa menyelesaikan permasalahan inkam. Solusi selesai dengan uang. BLT DD, bansos dan semua jenis bantuan tersebut memang dibutuhkan di saat pandemi seperti ini. Namun, study di Harvard menunjukkan dengan jelas, bahwa adanya bantuan ini tidak serta merta membuat warga negara yang mendapatkan suntikan instan dana beranjak mindset dan state of mind nya dalam berperilaku hemat dan terkendali. Sebaliknya, nafsu konsumerisme meningkat lebih hebat dari sebelumnya. Ini adalah contoh nyata di Amerika, yang sering kita katakan negara maju dan kaya. Sekedar perbandingan di Amerika per-keluarga kurang lebih mendapatkan 200jt rupiah per bulan bansos jika di rupiahkan. Namun dana tersebut habis dalam waktu singkat, easy come easy go.

Berbeda dengan karakter kelas kaya yang lebih terkontrol dalam penggunaan uangnya, perbedaan perilaku ini dengan jelas bagaimana cara pandang mereka yang bermental kaya dengan yang sebaliknya.
Jika solusi terkait uang dan inkam ini selesai, maka saya kira tidak perlu ada korupsi.
Moral hazard korupsi ini terkait dengan mindset keinginan banyaknya uang dan harta. Tidak peduli bagaimanapun caranya. Parahnya, jika yang di korupsi adalah hak rakyat jelata, maka disinilah bencana sebenarnya bermula.

Keinginan dan hasrat memiliki banyak uang dan harta tentu saja bukan hal salah, asal dilakukan dengan cara yang sesuai ajaran kebaikan agama dan tidak melanggar undang - undang negara.
Dan jika hasrat tersebut menemukan jalannya tanpa harus melibatkan aktivitas korupsi, maka jalan ini adalah solusi yang bisa menjawab semua tanya tentang cara bagaimana menjadi kaya tanpa rasuah. Transparan. Akuntabel. Profitable.

Niat yang positif dengan cara yang positif menghasilkan hasil dan output yang positif. Dan atmosfir kepositifan inijika di distribusikan dengan baik, perlahan akan merubah tatanan lokal dan masyarakat yang bersangkutan mengarah kepada keberkahan, ketenangan serta kebaikan berkelimpahan.
Akhirnya, Anda tidak perlu melakukan korupsi jika sumber inkam Anda mengalir deras, otomatis dan tanpa batas.

Sampai pada level ini, masalah Anda dengan uang sudah selesai. Dan Anda bisa tersenyum berkata "money is my best friend, and best friend never separate."