Maulid Ad Daibai : Bukti Cinta Dan Rasa Rindu pada Nabi.


Sebuah fragmen pembacaan Ad-Dibai di Giri Gajah

Syaikh Ibnu Ad Daibai (8 Oktober 1461 M - 15 Desember 1537 M)

Al-Imam Wajihuddin Abdur Rahman Ad Dibai. Seorang ulama hafiz hadits dengan 100k hafalan hadits. Seorang ahli sastra memiliki hati yang jujur, lemah lembut tutur katanya dan indah bahasanya (Maulid Al-Hafidz ibn Al-Daiba' : Sayyid 'Alawi al-Maliki)

Aplikasi Islam pada zaman-zaman sebelum keruntuhan Imperium Turki Usmani, sangat mendukung semua jenis keilmuan termasuk sastra. Momentum kejayaan imperium ini melahirkan banyak karya dan jejak religi yang luar biasa dan jejaknya masih bisa dirasakan sampai sekarang.

Karya sastra berasal dari kehalusan rasa. Cinta. Hubb Ar-Rasul. Ekspresi cinta bukanlah sebuah kesalahan, bahkan merupakan sebuah anjuran dan anugrah tersendiri apalagi kepada Kekasih Ilahi. Sang Nabi.

Ketinggian sastra religi dalam Islam seringkali didangkalkan dengan pemahaman hadis secara parsial. Tidak mengedepankan pemahaman yang luas, etika dan adab dalam memahami sebuah hadis. Tidak memprioritaskan asbabul wurud sebuah hadis dan hanya mengkajinya dari satu sisi, tidak multidimensi.

Disinilah letak melencengnya aqidah kaum wahabi (yang gerakan awalnya dulu di dukung penuh oleh Inggris untuk meruntuhan Islam dari dalam) yang salah kaprah dalam melihat dan memaknai sebuah khazanah sastra luar biasa dan berakibat pada keringnya keindahan dan kelezatan sastra dalam Islam yang notabene mengandung unsur spritualitas yang sangat tinggi dan penuh dengan kehalusan rasa yang mendalam.

Islam datang dengan sempurna, dari segi jasmani dan ruhani, keduanya memiliki hubungan multidimensi yang bertujuan menciptakan sebuah keharmonisan dengan alam dan menjadi manfaat bagi alam.

Agama memiliki nyawa, nilai spiritualitas yang salah satunya tercemin dari karya sastra para penganutnya. Karya sastra ini jika lahir dari seorang shalih dan hafidz hadits 100.000  100% bukanlah sebuah kesalahan dan kesesatan, ini adalah sebuah masterpiece, karya luar biasa, ekspresi cinta kepada Nabi dan Rasul yang dicintainya, dan beliau ingin mentransfer rasa itu kepada siapapun yang membacanya. Keindahan bersama yang dicinta, Sang Mustafa.

Semoga Maulid Ad-Daibai tetap lestari hingga akhir bumi.

Alfaqir ilallah
R Rofik